اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ، اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kauthar (nikmat yang banyak). Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang abtar (terputus).
Penjelasan
Surat ini merupakan bentuk anugerah dari Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad Saw dengan memberikan beliau Al-Kautsar, sekaligus sebagai pelipur lara untuk menenangkan hati beliau bahwa orang yang membencinyalah yang sebenarnya abtar (terputus keturunannya). Ini adalah surah terpendek di dalam Al-Qur’an.
Terdapat perbedaan riwayat mengenai apakah surat ini turun di Makkah atau Madinah, namun pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa surat ini adalah Makkiyah. Ada juga sebagian ulama yang berusaha mencari titik temu dari riwayat-riwayat tersebut dengan berpendapat bahwa surat ini turun dua kali.
Makna Al-Kautsar
Firman Allah Ta’ala:
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kauthar.
Dalam kitab Majma’ al-Bayan, disebutkan bahwa kata Al-Kautsar berasal dari pola kata (فوعل/fau’al) yang menunjukkan sesuatu yang memiliki sifat banyak. Artinya: Kebaikan yang teramat banyak.
Terdapat perbedaan pendapat yang luar biasa banyak di antara para ulama tafsir mengenai makna Al-Kautsar ini.
Beberapa di antaranya:
- Kebaikan yang sangat banyak.
- Sebuah sungai di surga.
- Telaga milik Nabi Muhammad Saw di
- surga atau di Padang Mahsyar kelak.
- Anak keturunan beliau ﷺ.
- Para sahabat dan pengikut beliau hingga hari Kiamat.
- Para ulama dari umat beliau.
- Al-Qur’an dan berbagai keutamaannya.
- Kemudahan dalam syariat Islam.
- Agama Islam itu sendiri.
- Ketauhidan.
- Ilmu dan hikmah.
- Berbagai keutamaan Nabi Saw.
- Maqam Mahmud (Kedudukan yang Terpuji).
- Cahaya yang menerangi hati Nabi Saw.
- dan masih banyak lagi.
Bahkan, sebagian ulama mencatat ada hingga 26 pendapat berbeda.
Dari sekian banyak pendapat tersebut, dua pendapat pertama bersandar pada riwayat hadis. Sedangkan sisa pendapat lainnya cenderung hanyalah klaim tanpa dalil yang kuat.
Apapun perbedaannya, perhatikanlah penutup surah ini:
اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang abtar.
Secara bahasa, al-Abtar berarti orang yang terputus garis keturunannya. Berdasarkan susunan kalimatnya, ini memberikan petunjuk kuat bahwa banyaknya keturunan adalah makna utama dari Al-Kautsar yang diberikan kepada Nabi Saw, atau setidaknya hal itu termasuk dalam cakupan kebaikan yang banyak tersebut.
Sebab, jika bukan itu maknanya, maka kalimat penutup Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang abtar akan kehilangan korelasi dengan ayat pertamanya.
Asbabun Nuzul
Riwayat-riwayat yang mutawatir menyebutkan bahwa surah ini turun untuk merespons orang yang mengejek Nabi Muhammad Saw dengan sebutan abtar setelah wafatnya putra-putra beliau (yaitu Al-Qasim dan Abdullah).
Dengan konteks ini, terbantahlah pendapat yang mengartikan kata abtar sebagai orang yang terputus dari kaumnya atau orang yang terputus dari kebaikan.
Gaya Bahasa Ayat
Pada firman-Nya Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ﴾:
Allah menggunakan kata ganti “Kami” yang berfungsi untuk menunjukkan keagungan Allah.
Penggunaan kata penegas Inna (Sesungguhnya) berfungsi untuk memberikan penekanan dan sangat efektif untuk menenangkan hati Nabi Saw.
Penggunaan kata A’thayna (Kami berikan) secara tersirat bermakna tamlik, yaitu memberikan sesuatu hingga menjadi hak milik seutuhnya.
Lebih jauh lagi, susunan kalimat dalam surah ini tidak bisa dilepaskan dari isyarat bahwa keturunan Nabi Saw akan terus berlanjut melalui jalur Sayyidah Fatimah as. Ini merupakan salah satu nubuat atau mukjizat Al-Qur’an terkait peristiwa masa depan.
Terbukti, Allah Ta’ala menjadikan keturunan Nabi Saw sangat banyak hingga tidak ada satu nasab pun yang mampu menandingi jumlah mereka, meskipun sepanjang sejarah mereka terus-menerus ditimpa berbagai musibah dan pembunuhan massal yang mengerikan.
Perintah Shalat dan Kurban
Firman Allah Ta’ala:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.
Konteks ayat ini jelas menunjukkan bahwa perintah shalat dan nahr merupakan turunan dari nikmat yang telah diberikan di ayat pertama.
Artinya: “Karena Kami telah memberikanmu nikmat Al-Kautsar, maka bersyukurlah atas nikmat tersebut dengan mendirikan shalat dan melakukan nahr.”
Lalu, apa makna Nahr di sini? Ada beberapa pendapat:
- Menyembelih hewan kurban (seperti pada Hari Raya Idul Adha).
- Menurut riwayat dari Syiah maupun Sunni yang bersumber dari Imam Ali AS, Imam Ja’far ash-Shadiq AS, dan ulama lainnya: Makna nahr di sini adalah mengangkat kedua tangan sejajar dengan pangkal leher/dada (nahr) saat mengucapkan takbir dalam shalat.
- Berdiri tegak meluruskan punggung saat bangkit dari ruku’.
Identitas Sang Pembenci
Firman Allah Ta’ala:
اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang abtar.
Kata As-Syani’ berarti orang yang membenci. Sedangkan Al-Abtar adalah orang yang tidak memiliki keturunan (penerus). Tokoh yang dimaksud mengejek Nabi dalam ayat ini adalah Al-‘Ashi bin Wa’il.
Ada juga yang menafsirkan abtar di sini sebagai orang yang terputus dari kebaikan atau terputus dari kaumnya. Namun, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, riwayat sebab turunnya surah ini menolak penafsiran tersebut.
Baik, mari kita lanjutkan terjemahan bagian terakhir dari tafsir Surah Al-Kautsar ini. Bagian ini berfokus pada pemaparan berbagai riwayat (hadis) yang berkaitan dengan ayat-ayat di dalamnya.
Pembahasan Riwayat
- Riwayat tentang Makna Al-Kautsar
Dalam kitab Ad-Durr al-Manthur, Al-Bukhari, Ibnu Jarir, dan Al-Hakim meriwayatkan dari jalur Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: “Al-Kautsar adalah kebaikan yang sangat banyak yang Allah berikan kepada beliau (Nabi Saw).”
Abu Bisyr kemudian berkata kepada Sa’id bin Jubair: “Tetapi banyak orang mengklaim bahwa Al-Kautsar itu adalah sebuah sungai di surga?”
Sa’id menjawab: “Sungai yang ada di surga itu juga termasuk bagian dari kebaikan yang sangat banyak yang Allah berikan kepada beliau.”
- Riwayat tentang Makna Wanhar
Masih dalam kitab yang sama, Ibnu Abi Hatim, Al-Hakim, Ibnu Mardawaih, dan Al-Baihaqi dalam kitab Sunan-nya, meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib yang menceritakan:
Ketika surat ini turun kepada Nabi Muhammad Saw: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar, Nabi Saw bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, sembelihan (kurban/nahr) seperti apa yang diperintahkan Tuhanku ini?”
Jibril menjawab, “Ini bukan perintah untuk menyembelih kurban. Melainkan, Allah memerintahkanmu untuk mengangkat kedua tanganmu saat memulai shalat (takbiratul ihram), saat hendak ruku’, dan saat bangkit dari ruku’. Itulah tata cara shalat kami dan shalatnya para malaikat di tujuh lapis langit. Sesungguhnya segala sesuatu itu ada perhiasannya, dan perhiasan shalat adalah mengangkat kedua tangan pada setiap takbir.”
Nabi Saw bersabda: “Mengangkat kedua tangan (dalam shalat) adalah bentuk ketundukan (kepada Allah).”
Hal ini sejalan dengan firman Allah: Maka mereka tidak juga tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri. (QS. Al-Mu’minun: 76).
Riwayat serupa juga dicatat dalam kitab Majma’ al-Bayan dari Al-Muqatil, dari Ashbagh bin Nubatah, dari Imam Ali ‘Alaihis Salam. Penulis kitab tersebut menambahkan, “Ats-Tsa’labi dan Al-Wahidi juga mencantumkan riwayat ini dalam tafsir mereka.”
Ia juga menegaskan, “Seluruh keturunan Nabi yang suci (Ahlul Bait) meriwayatkan dari Imam Ali bahwa makna nahr (dalam surah ini) adalah mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan leher/dada (nahr) di dalam shalat.”
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Ja’far (Imam al-Baqir) mengenai firman-Nya: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (wanhar).
Beliau berkata: “Artinya, shalatlah, dan angkatlah kedua tanganmu pada takbir pembuka (takbiratul ihram).”
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai ayat yang sama, ia berkata: “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Rasul-Nya: Angkatlah kedua tanganmu sejajar dengan leher/dadamu (nahr) saat engkau bertakbir untuk memulai shalat.”
Dalam kitab Majma’ al-Bayan, diriwayatkan dari Umar bin Yazid, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far ash-Shadiq) menjelaskan firman Allah Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah, dengan memperagakan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan wajahnya.
Diriwayatkan pula hal yang serupa dari Abdullah bin Sinan, dan riwayat yang hampir sama dari Jamil, yang keduanya bersumber dari Imam Ja’far ash-Shadiq.
Dalam kitab Ad-Durr al-Manthur, Ibnu Sa’d dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari jalur Al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, ia bercerita:
Anak laki-laki Rasulullah Saw yang paling tua bernama Al-Qasim, kemudian lahir Zainab, Abdullah, Ummu Kultsum, lalu Fatimah, lalu Ruqayyah.
Ketika Al-Qasim wafat (ia adalah anak pertama beliau yang wafat di Makkah), disusul kemudian wafatnya Abdullah, tokoh musyrik bernama Al-‘Ashi bin Wa’il as-Sahmi dengan congkak berkata: “Garis keturunannya sudah terputus, dia sekarang adalah orang yang abtar (tak punya penerus).”
Maka Allah pun menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang abtar.
Az-Zubair bin Bakkar dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya (Imam al-Baqir), ia menceritakan:
Ketika Al-Qasim, putra Rasulullah Saw wafat di Makkah, Rasulullah berjalan melewati kerumunan orang musyrik. Al-‘Ashi bin Wa’il dan putranya, Amr, saat itu sedang memperhatikan beliau.
Al-‘Ashi lalu berkata (mengejek): “Aku benar-benar membencinya!”
Lalu ia menimpali lagi, “Sudahlah, dia sekarang sudah jadi abtar (terputus garis keturunannya).”
Maka Allah pun menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang abtar.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari As-Suddi, ia berkata: Dahulu orang-orang Quraisy punya kebiasaan, jika semua anak laki-laki seseorang meninggal dunia, mereka akan berkata “Si Fulan sudah terputus (batar).” Maka ketika putra Nabi Saw meninggal, Al-‘Ashi bin Wa’il berseru: “Dia sudah terputus (batar), dia sekarang abtar yang sebatang kara.”
Dalam sebagian riwayat lain disebutkan bahwa orang yang mengejek Nabi itu adalah Al-Walid bin Al-Mughirah. Riwayat lain menyebut Abu Jahl. Ada lagi yang menyebut ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, dan riwayat lain menyebut Ka’ab bin Al-Asyraf. Namun, riwayat yang paling kuat dan bisa dijadikan pegangan adalah riwayat yang pertama yang menyebut Al-‘Ashi bin Wa’il.
Pendapat di atas didukung kuat oleh apa yang tercatat dalam kitab Al-Ihtijaj karya Ath-Thabarsi, yang merekam perdebatan antara Imam Hasan bin Ali as dengan Amr bin Al-‘Ashi. Dalam perdebatan itu, Imam Hasan menyindir Amr:
“Engkau ini lahir di atas ranjang yang diperebutkan (ibumu tidak jelas suaminya)! Saat itu, banyak pemuka Quraisy yang menggauli ibumu secara bergantian, di antaranya: Abu Sufyan bin Harb, Al-Walid bin Al-Mughirah, Utsman bin Al-Harits, An-Nadr bin Al-Harits bin Kaladah, dan Al-‘Ashi bin Wa’il. Masing-masing dari mereka mengklaim engkau sebagai anaknya. Pada akhirnya, orang yang nasabnya paling rendahan, kedudukannya paling hina, dan niatnya paling buruk di antara merekalah (yakni Al-‘Ashi) yang berhasil memenangkan klaim atas dirimu!
Lalu, engkau (Amr) berani berdiri berpidato dan mengejek: ‘Aku membenci Muhammad.’ Padahal Al-‘Ashi bin Wa’il ayahmu itulah yang dulu mengejek saat putra Nabi wafat dengan berkata: ‘Muhammad sekarang sudah abtar (terputus keturunannya), tidak punya anak laki-laki. Jika dia mati, namanya akan hilang ditelan bumi.’ Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala pun membalas ucapan ayahmu itu dengan menurunkan ayat: Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang abtar.
Terakhir, dalam Tafsir Al-Qummi mengenai firman-Nya Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar, disebutkan: “Al-Kautsar adalah sebuah sungai di surga yang Allah berikan kepada Muhammad Saw sebagai pengganti atas wafatnya putranya, Ibrahim.”
Riwayat ini berstatus mursal (sanadnya terputus/tidak lengkap). Selain itu, riwayat ini bertentangan dengan sekian banyak riwayat kuat lainnya. Di samping itu, menafsirkan Al-Kautsar sebagai sungai di surga sebenarnya tidaklah bertentangan dengan penafsiran bahwa ia adalah kebaikan yang teramat banyak, sebagaimana yang telah dijelaskan dengan sangat baik oleh Ibnu Abbas di awal pembahasan riwayat ini.
Disadur dari Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran Allamah Thabathaba’i.
